9 Kuliner Khas Singkawang Saat Imlek dan Cap Go Meh yang Wajib Dicoba Wisatawan

Jumat, 13 Februari 2026 | 08:48:11 WIB
9 Kuliner Khas Singkawang Saat Imlek dan Cap Go Meh yang Wajib Dicoba Wisatawan

JAKARTA - Perayaan Tahun Baru Imlek di , selalu menghadirkan suasana yang berbeda dari kota lainnya di Indonesia. Kota ini menjelma menjadi lautan merah dengan lampion bergelantungan, aroma dupa semerbak dari kelenteng, serta lantunan doa yang menyatu dengan riuh perayaan.

Namun Imlek di Singkawang bukan sekadar pesta visual yang memanjakan mata. Ada cerita tentang kebersamaan lintas budaya Tionghoa, Dayak, dan Melayu yang berpadu harmonis dalam ragam hidangan khas yang tersaji di meja makan.

Bagi masyarakat Tionghoa Singkawang yang mayoritas merupakan keturunan Hakka, makanan saat Imlek bukan hanya santapan biasa. Setiap hidangan adalah doa, simbol harapan, dan wujud syukur menyambut tahun yang baru.

Wisatawan yang datang saat libur Imlek maupun Cap Go Meh akan menemukan kekayaan rasa yang autentik. Dari kedai kaki lima hingga restoran keluarga, pilihan kulinernya menghadirkan pengalaman yang tak terlupakan.

Berikut sembilan kuliner khas Singkawang yang selalu menjadi incaran saat perayaan berlangsung. Setiap sajian memiliki makna mendalam sekaligus cita rasa yang khas dan menggoda.

Chiang Mie, Simbol Panjang Umur dan Harapan Kesehatan

Chiang mie menjadi menu wajib yang hampir selalu hadir saat malam pergantian tahun atau hari pertama Imlek. Mi ini dimasak dengan isian melimpah seperti sawi, buncis, kol, tauge, dan wortel, lalu ditambah bakso atau potongan daging.

Bumbu kecap ikan dan saus tiram menciptakan rasa gurih yang mendalam di setiap suapan. Mi harus disantap tanpa dipotong sebagai simbol harapan panjang umur dan kesehatan bagi seluruh anggota keluarga.

Tekstur mi yang kenyal berpadu dengan sayuran segar memberikan sensasi sederhana namun bermakna. Tradisi ini diwariskan turun-temurun dan tetap dijaga hingga kini.

Mie Tiaw Asuk dan Cita Rasa Legendaris Jalanan

Berbeda dengan chiang mie yang identik dengan suasana rumah, mie tiaw asuk justru dikenal sebagai legenda kaki lima. Kata "asuk" berasal dari bahasa Hakka yang berarti "paman", merujuk pada para paman yang mengolah mi ini secara tradisional.

Keunikan mie tiaw asuk terletak pada penggunaan kecap asin dan perasan jeruk limau atau jeruk sambal yang segar. Tambahan tauge mentah memberikan tekstur renyah yang kontras dengan mi yang lembut.

Teknik memasaknya masih mempertahankan cara tradisional dengan arang sehingga menghasilkan aroma khas. Cita rasanya sederhana tetapi kuat dan melekat di ingatan.

Hekeng dan Choipan, Jejak Akulturasi yang Menggugah Selera

Hekeng adalah representasi akulturasi China-Indonesia yang begitu terasa di Singkawang. Hidangan ini mirip ngohiong atau rolade dengan bahan dasar campuran udang dan daging babi cincang yang dibungkus kulit kembang tahu, lalu dikukus dan digoreng.

Seiring perkembangan budaya lokal, muncul versi halal menggunakan daging ayam agar bisa dinikmati semua kalangan. Hekeng biasanya disajikan dengan saus asam manis atau sambal pedas sebagai simbol kehidupan yang memiliki beragam rasa namun tetap nikmat dijalani.

Choipan juga menjadi ikon kuliner yang tak terpisahkan dari perayaan. Dalam bahasa Hakka, choi berarti sayur dan pan berarti kue sehingga choipan dikenal sebagai dimsumnya Singkawang.

Kulitnya tipis dan transparan dengan isian bengkuang, kucai, atau talas yang gurih. Taburan bawang goreng di atasnya memperkaya aroma sekaligus menambah kenikmatan saat disantap.

Choipan bukan sekadar camilan ringan yang mudah ditemukan di berbagai sudut kota. Hidangan ini mencerminkan kesederhanaan yang memikat sekaligus kedekatan masyarakat dengan tradisi leluhur.

Bubur Pedas, Rujak Thai Pui Jie, dan Bubur Gunting yang Menghangatkan Suasana

Bubur pedas Bendahre meski berasal dari tradisi Melayu Sambas telah menjadi bagian dari keseharian masyarakat Singkawang. Hidangan ini kerap hadir pula saat periode Imlek sebagai bukti harmoninya keberagaman.

Keunikan bubur pedas terletak pada beras yang disangrai terlebih dahulu sebelum dimasak bersama daun kesum dan pakis. Tambahan ikan teri serta kacang goreng menciptakan tekstur renyah sekaligus rasa gurih yang khas.

Rujak Thai Pui Jie menawarkan kesegaran yang berbeda dari rujak pada umumnya. Jika rujak Jawa identik dengan gula merah, versi Singkawang ini menonjolkan ebi atau udang kering yang dihaluskan bersama bumbu.

Taburan kerupuk melinjo menambah sensasi renyah di setiap gigitan. Perpaduan rasa manis, pedas, dan gurih mencerminkan dinamisnya kehidupan masyarakat kota ini.

Bubur gunting juga menjadi sajian favorit untuk sarapan saat hari perayaan. Nama uniknya berasal dari cara penyajian cakwe yang dipotong menggunakan gunting sebelum dimasukkan ke dalam bubur kacang hijau kental beraroma pandan.

Tekstur creamy bubur berpadu dengan cakwe yang kenyal dan renyah. Hidangan ini memberikan kehangatan untuk memulai hari yang penuh makna.

Sup Bebek Plum dan Lempok Durian Penutup Sarat Makna

Sup bebek plum kerap menjadi sajian istimewa saat Imlek di Singkawang. Olahan bebek ini dimasak dengan tambahan asinan buah plum atau Seng Mui yang menghadirkan rasa asam segar khas Tiochiu dan Hakka.

Rasa asam dari plum memberi keseimbangan pada lemak daging bebek yang gurih. Kuahnya yang kaya dipercaya dapat membantu memulihkan stamina setelah rangkaian perayaan panjang.

Sebagai penutup, lempok durian hadir membawa filosofi mendalam dalam setiap potongannya. Teksturnya yang lengket melambangkan harapan agar hubungan antaranggota keluarga semakin erat dan tak terpisahkan.

Rasa manisnya menjadi doa agar setiap ucapan dan kejadian di tahun baru selalu berbuah manis. Melimpahnya durian di Kalimantan Barat menjadikan lempok sebagai hantaran prestisius yang selalu dinanti.

Keberagaman kuliner ini memperlihatkan betapa Imlek di Singkawang bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah perayaan rasa, simbol harapan, dan cermin harmoninya masyarakat yang hidup berdampingan.

Setiap suapan menyimpan cerita tentang sejarah, budaya, dan nilai kebersamaan. Inilah alasan mengapa berburu kuliner saat Imlek dan Cap Go Meh di Singkawang selalu menjadi pengalaman yang tak tergantikan.

Terkini